meniti pagi memilah saturasi detik waktu
satu per satu aku lempar ke tanah basah
menunggu layar mentari terbuka lebar di depan
menikmati secangkir kopi dan perbaikan hari
masih di tempat dan posisi yang sama
dengan buaian dimensi keindahannya
semua problematika asa kini coba kunikmati lagi
mencoba menorehkan dalam beberapa kertas sobek
satu demi satu…
lembar demi lembar…
namun lagi-lagi semua kulempar dan tak berarti
menjadi teman tanah basah dan kesejukan pagi
satu per satu aku lempar ke tanah basah
menunggu layar mentari terbuka lebar di depan
menikmati secangkir kopi dan perbaikan hari
masih di tempat dan posisi yang sama
dengan buaian dimensi keindahannya
semua problematika asa kini coba kunikmati lagi
mencoba menorehkan dalam beberapa kertas sobek
satu demi satu…
lembar demi lembar…
namun lagi-lagi semua kulempar dan tak berarti
menjadi teman tanah basah dan kesejukan pagi
pagi ini…
beberapa ekor burung datang mendekati
hinggap di teras rumah ibuku tanpa bernyanyi
hanya menarikan simbol untukku
simbol yang masih tak dapat kupahami
tapi masih dengan cinta mereka
masih dengan lantunan indahnya
lantunan dalam gerakan tarian
tak apalah mungkin nanti…
yang pasti pagi ini harus tetap kunikmati
beberapa ekor burung datang mendekati
hinggap di teras rumah ibuku tanpa bernyanyi
hanya menarikan simbol untukku
simbol yang masih tak dapat kupahami
tapi masih dengan cinta mereka
masih dengan lantunan indahnya
lantunan dalam gerakan tarian
tak apalah mungkin nanti…
yang pasti pagi ini harus tetap kunikmati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar